Program Sistem Pemasaran Pasar Hewan

Sistem Pemasaran Pasar Hewan

 

Menurut Pratjihno (1985), pasar adalah suatu bidang tanah atau kompleks bangunan tempat orang berjual beli barang, tetapi dalam perdagangan yang lebih luas, pasar mendapat arti abstrak seperti pasar modal dan pasar bebas. Secara umum pasar merupakan pertemuan antara penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dalam rangka memindahkan hak atas barang atau jasa yang dijualbelikan objek jual-beli (Prawirosentono, 1997).

Semua produk atau barang yang diperjualbelikan dan merupakan hasil dari proses produksi, pengolahan dan pemasaran disebut komoditi. Hewan yang merupakan komoditi pertanian pada umumnya tidak mampu untuk didistribusikan secara terus menerus sepanjang tahun karena : (a) musiman, (b) sangat sensitif terhadap cuaca, penyakit, dan (c) pada dasarnya terhadap dalam jumlah yang sangat besar dalam sistem produksi dan sistem distribusi tetapi sangat sedikit dalam sistem pengolahan (Napitupulu, 1988). Menurut Kotler (1997), produk adalah apa saja yang ditawarkan kedalam pasar untuk dimiliki, digunakan atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan konsumen.

Secara umum pasar hewan merupakan tempat terjadinya transaksi jual dan beli hewan. Hewan yang biasanya dijual-belikan yaitu hewan ternak (sapi, domba dan kambing). Ciri-ciri pasar hewan yaitu adanya produsen yang biasanya peternak, adanya konsumen yang biasanya konsumen langsung, adanya barang yang diperjualbelikan (hewan ternak). Terkadang terdapat calo dalam transaksi jual-beli di pasar hewan. Keberadaan pasar ternak, menurut Dinas Pertanian Kabupaten Garut (2002) merupakan salah satu rantai tataniaga domba antara peternak dan RPH.

Menurut Soedjana (1993), petani sering memilih menjual ternaknya secara langsung kepada pedagang perantara dan pengumpul desa yang berada diantara petani dan pasar. Menurut Atmakusuma (1996) dalam pemasaran, peternak harus memperhatikan : (1) waktu jual dan beli, (2) cara melakukan penjualan, (3) meningkatkan nilai jual ternak dan (4) menaksir harga ternak. Meningkatkan nilai jual ternak berarti bahwa dalam pejualan ternak diusahakan tidak menjual ternak yang masih muda atau dibawah umur karena selain harganya rendah, kesempatan untuk memanfaatkan kecepatan pertumbuhan yang baik akan hilang.

Pasar hewan di desa Kondangjajar terdapat di dusun Kalensari yang rutin diadakan setiap hari senin dan jum’at pukul 06.00-09.00 WIB. Dimana setiap hari senin hanya menjual hewan domba dan kambing. Sedangkan setiap hari jum’at menjual hanya sapi. Kunjungan kami saat ke pasar hewan jatuh pada hari senin, 9 Juli 2012 berikut foto suasana pasar hewan Kalensari

Pelaku pemasaran pada pasar hewan tersebut yaitu peternak bertindak sebagai produsen pada transaksi jual-beli di pasar hewan dan sebagian besar peternak berasal dari luar kecamatan Cijulang. Sedangkan bandar bertindak sebagai konsmen. Jalur pemasaran hewan di pasar hewan tersebut sebagai berikut:

• Produsen -> Pedagang besar pengumpul (bandar) -> Konsumen
• Produsen -> Pedagang besar pengumpul (bandar) -> Pedagang pengecer -> Konsumen
• Produsen -> Pedagang besar pengumpul (bandar) -> Pedagang besar penyebar -> Pedagang pengecer -> Konsumen

Produsen (peternak) membawa hewan ternaknya ke pasar hewan dan bandar menawarkan harga (negosiasi) untuk hewan ternak yang akan dibelinya. Apabila peternak merasa cocok dengan harga yang ditawarkan maka hewan tersebut dapat dibeli oleh bandar dengan harga yang telah ditetapkan bersama tersebut (Gambar 2). Kemudian bandar menjual kembali hewan yang dibelinya ke pasar banjarsari, pangandaran dan padaherang. Dipasar-pasar tersebut hewan ternak tersebut dibeli oleh pedagang pengecer dan konsumen. Bahkan ada bandar yang menjual kembali hewan yang dibelinya ke pedagang besar penyebar di Jakarta lalu pedagang besar penyebar menjual kembali ke jagal dan di distribusikan ke pedagang pengecer di pasar-pasar.

Pasar hewan yang diadakan di dusun Kalensari merupakan tanah milik desa dimana peternak dapat menjual hewan ternaknya disana pada waktu yang telah ditetapkan. Peternak dikenakan biaya administrasi untuk setiap hewan ternaknya yang terjual sebesar Rp. 750,- per ekor. Harga jual hewan ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama antara penjual dan pembeli. Biasanya harga ditaksir berdasarkan taksiran bobot daging dan postur tubuh. Pada domba betina harga sekitar Rp. 50.000,- per kg sedangkan domba jantan harga sekitar Rp.100.000,- per kg. Perbedaan tersebut dikarenakan domba jantan dapat digunakan sebagai hewan aqiqah sehingga harga jual lebih mahal dari domba betina. Harga jual kambing sekitar Rp. 35.000,- per kg. Hewan yang dijual di pasar hewan tersebut tidak dibatasi kriterianya. Semua jenis, keadaan fisik dan umur dapat dijual disana, bahkan hewan cacat pun dapat dijual. Kami melihat hewan yang sakit mata, orf bahkan cacat laku terjual (Gambar 3). Hal tersebut dikarenakan sebagian besar bandar mencari hewan dengan tujuan mengambil dagingnya sehingga kurang memperhatikan keadaan fisiknya.

Pada kunjungan kegiatan di pasar hewan, kami sempat berdiskusi dengan seorang peternak, beliau merasa terbantu dengan adanya pasar hewan ini karena dapat memasarkan hewan ternaknya dengan mudah. Selain di pasar hewan ini, beliau menjual hewan ternaknya di pasar-pasar yang biasa bandar menjual hewan ternak juga yaitu pasar Cikembulan pangandaran, Banjarsari dan Padaherang. Pada hari kunjungan kami Senin, 9 juli 2012 beliau membawa 4 ekor domba dan laku sebanyak 3 ekor. Menurutnya pada hari itu jumlah domba yang dijual peternak-peternak cukup sedikit. Karena biasanya setiap peternak bisa membawa kurang lebih 20 ekor namun saat itu stok domba yang dijual peternak khususnya beliau sedang sedikit, sehingga tidak banyak hewan yang dibawanya untuk dijual.

Berdasarkan pengalaman praktek lapangan kami kunjungan ke pasar hewan tanjung sari Sumedang saat perkuliahan, terdapat beberapa perbedaan yang mencolok antara kedua pasar hewan ini. Pada pasar hewan di dusun Kalensari tidak terdapat calo seperti pasar hewan Tanjung Sari Sumedang hal tersebut menguntungkan pembeli karena harga yang ditawarkan tidak lebih mahal dari harga produsen (peternak). Biaya administrasi yang dikenakan pada produsen (peternak) untuk setiap ekor hewan yang terjual pun lebih murah daripada pasar hewan tanjung sari sumedang yaitu pada pasar hewan tanjung sari sumedang sebesar Rp. 1.500,- per ekor sedangkan pasar hewan di dusun Kalensari sebesar Rp. 750,- per ekor sehingga meringankan beban kewajiban peternak.

Kelemahan pada pasar hewan di dusun Kalensari yaitu keadaan hewan ternak yang dijual kurang diperhatikan. Hewan sakit pun dapat terjual untuk dagingnya dijual kembali. Berbeda dengan pasar hewan tanjung sari sumedang, hewan yang kondisinya kurang baik jarang dilirik oleh pembeli.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s