Program Analisis Koperasi Simpan Pinjam – 2

Analisis Koperasi Simpan Pinjam

2.  Analisis Koperasi Simpan Pinjam Al-Mujahidin Dusun Kalensari

LKK Al-Mujahidin didirikan sekitar tahun 1985, yang merupakan salah satu bentuk pemisahan dari dari LKK Al-Baroqah. LKK ini bertempat di RT 21 RW 05 Dusun Kalensari, Desa Kondangjajar, dengan struktur organisasi masa bakti 2011-2013 

Tujuan LKK Al-Mujahidin:
1. Menyejahterakan masyarakat RT 21 RW 05 Dusun Kalensari pada khususnya
2. Meningkatkan kesejahteraan anggota LKK Al-mujahidin
3. Menyejahterakan DKM dusun Kalensari

Manfaat LKK Al-Mujahidin:
1. Untuk meningkatkan pembangunan desa dan kepentingan umum
2. Untuk menunjang kegiatan sosial PHBN/PHBI
3. Memberikan Tunjangan Hari Raya untuk anggota seperti yang telah diputuskan dalam Rapat Anggota Tahunan
4. Memberikan tunjangan kematian

Berdasarkan wawancara dengan para pengurus, terdapat kenaikan yang cukup signifikan dari awal LKK ini memutuskan untuk berdiri sendiri yaitu dilihat dari modal awal terdapat peningkatan dari Rp 500.000 menjadi Rp 100.000.000 . Peningkatan ini juga membuat LKK Al-Mujahidin menjadi LKK bermodal besar diantara LKK lain di Dusun Kalensari. Ada beberapa strategi yang mereka terapkan, diantaranya:

  1.  Memberikan kelonggaran waktu pelunasan selama 5 hari dari tanggal 15 seperti yang tetapkan dalam RAT.
  2. Memungut iuran untuk acara masyarakat ataupun pemerintah langsung dikeluarkan dari LKK, sehingga tidak terlalu memberatkan para anggota.
  3. Menjunjung tinggi kegiatan sosial.

Ketua pengurus mengungkapkan terdapat masalah utama yang hampir seluruh LKK mengalaminya yaitu kredit macet. Kredit macet terjadi ketika anggota kesulitan untuk melunasi pinjaman mereka pada tenggat waktu yang ditetapkan. Namun sejauh ini mereka masih bisa menanggulangi dengan baik masalah tersebut sehingga tidak mengganggu alur kas. Berikut tahapan solusi yang mereka lakukan :

  1. Pendekatan kepada anggota yang telah melewati jangka waktu sebulan.
  2. Apabila tidak ada respon positif setelah tahap pertama dilakukan, maka pengurus mengirimkan surat peringatan dan membuat perjanjian dengan anggota terkait tanggal toleransi pembayaran dan jaminan apabila anggota tetap tidak bisa membayar pada waktu yang dijanjikan.
  3. Apabila tahap kedua tidak membuahkan hasil maka pengurus mengeksekusi jaminan yang telah dijanjikan dalam surat perjanjian.

Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan LKK dalam memenuhi kewajiban keuangannya sesegera mungkin dan dalam membiayai operasinya. Apabila LKK mampu memenuhi kewajibannya tepat waktu maka perusahaan tersebut dalam keadaan likuid sedangkan bila tidak mampu memenuhinya, berarti dalam keadaan ilikuid. Yang termasuk dalam rasio likuiditas yaitu:

Rasio Lancar
Dapat digunakan untuk menunjukkan nilai aktiva lancar terhadap hutang lancar. Rasio ini memperlihatkan kemampuan LKK dalam memenuhi tagihan jangka pendeknya. Semakin besar rasio ini berarti semakin tinggi kemampuan LKK dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Rumusnya sebagai berikut:
Rasio Lancar = (Harta lancar)/(Kewajiban lancar) = 72,432,098/2,712,205 = 26.70598

Rasio Leverage
Rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar aktiva yang dimiliki LKK berasal dari hutang atau modal, sehingga dengan rasio ini dapat diketahui posisi LKK dan kewajibannya yang bersifat tetap kepada pihak lain serta keseimbangan nilai aktiva tetap dengan modal yang ada. Sebaiknya komposisi modal harus lebih besar dari hutang. Yang termasuk dalam rasio leverage yaitu:
Rasio total hutang terhadap total aktiva
Rasio total hutang terhadap total aktiva menunjukkan besarnya total hutang terhadap keseluruhan total aktiva yang dimiliki oleh LKK. Rumusnya sebagai berikut:
Rasio total hutang terhadap total aktiva= (Total liabilities )/(Total assets) x 100 %= 2,712,205 /107,542,398 x 100 %= 25,22%

Rasio Rentabilitas
Rasio rentabilitas adalah rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan LKK dalam menghasilkan laba selama periode tertentu. Rentabilitas suatu LKK dapat diukur dengan kesuksesannya dalam menggunakan aktiva secara produktif, maka rentabilitas itu dapat diketahui dengan membandingkan antara laba dengan modal LKK tersebut. Yang termasuk dalam rasio rentabilitas antara lain:

Pengembalian atas total aktiva (ROA)
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan LKK dengan keseluruhan dana yang telah ditanamkan pada aktiva untuk operasi LKK dalam memperoleh keuntungan. Rasio ini juga menunjukkan produktivitas dari seluruh dana LKK. Rumusnya sebagai berikut:
ROA =SHU /(Total assets) x 100 %= 5,193,544/107,542,398 x 100 %= 432,8 %

Pengembalian atas ekuitas (ROE)
Rasio ini mengukur tingkat efisiensi modal sendiri dan menunjukkan laba bersih yang dapat diperoleh dari modal LKK. Semakin tinggi rasio ini semakin memperkuat posisi modal LKK. Rumusnya:
ROE =SHU /(Total equity) x 100 % = 5,193,544/99,636,649 x 100 % = 5,21 %

Analisis untuk prediksi kesulitan
Berikut definisi kesulitan keuangan:
Economic failure
Adalah keadaan dimana pendapatan LKK tidak dapat menutupi total biaya, termasuk cost of capitalnya. LKK ini dapat melanjutkan operasinya sepanjang pemerintah mau menyediakan modal.
Business failure
Didefinisikan sebagai bisnis yang menghentikan operasi dengan akibat kerugian kepada peminjam modal.
Technical insolvency
Sebuah LKK dikatakan dalam keadaan technical insolvency jika tidak dapat memenuhi kewajiban lancar ketika jatuh tempo. Ketidakmampuan membayar hutang secara teknis menunjukkan kekurangan likuiditas yang sifatnya sementara.
Insolvency in bankruptcy
Sebuah LKK dikatakan dalam keadaan Insolvent in bankruptcy jika nilai buku hutang melebihi nilai pasar aset. Kondisi ini lebih serius daripada technical insolvency karena, umumnya, ini adalah tanda economic failure, dan bahkan mengarah kepada likuidasi bisnis.
Legal bankruptcy
LKK dikatakan bangkrut secara hukum jika telah diajukan tuntutan secara resmi dengan undang-undang.

Ada beberapa pengukuran untuk memprediksi kesulitan keuangan Lembaga Kesejahteraan Keluarga yaitu menggunakan metode Z-score, dengan perhitungan sebagai berikut:
Z = 0,717 X1 + 0,847 X2 + 3,107 X3 + 0,420 X2 + 0,998 X5
Z= 0,717 X1 + 0,847 X2 + 3,107 X3 + 0,420 X2 + 0,998 X5
dimana
X1 = Rasio Modal kerja / Total aset
X2 = Rasio Laba yang ditahan / Total aset
X3 = Rasio Laba sebelum bunga dan pajak / Total aset
X4 = Rasio Nilai buku saham preferen dan saham biasa/Nilai buku total hutang
X5 = Rasio Penjualan / Total aset

Klasifikasi perusahaan yang sehat dan bangkrut didasarkan pada nilai Z yang diperoleh, yaitu:
Bila Z > 2.67, maka termasuk perusahaan sehat
Bila Z < 1.81, maka termasuk perusahaan yang bangkrut
Bila Z berada diantara 1.81 sampai 2.67, maka termasuk grey area (tidak dapat ditentukan apakah perusahaan sehat ataupun mengalami kebangkrutan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s