Program MOL

Pembuatan Mikroorganisme Lokal

Alat Bahan

Alat

  1. Lesung dan alu atau blender
  2. Pisau 
  3. Kapak 
  4. Ember 
  5. Kertas koran
  6. Tali rafia

Bahan

  1. Keong emas (secukupnya)
  2. Bonggol Pisang (secukupnya)
  3. Air nira/ Gula (350 ml)
  4. Air cucian beras/ tajin (1,5 L)
  5. Air kelapa (700ml)
  6. Daun Ki Hujan (secukupnya)

Cara pembuatan
1. Semua bahan padat dihaluskan sehalus mungkin
2. Semua bahan cair dicampurkan dalam wadah
3. Bahan cair dan padat dicampurkan
4. Aduk rata campuran
5. Tutup campuran dalam wadah dengan koran dan diikat
6. Letakkan dalam tempat teduh dan didiamkan (fermentasi) selama kurang lebih tiga minggu

Mol (Mikroorganisme Lokal) adalah suatu larutan yang dibuat dari bahan – bahan sisa lokal dari suatu wilayah (Anonim, 2012). Bahan – bahan ini biasanya merupakan bahan sisa atau limbah rumah tangga, pertanian, peternakan, dan lain – lain. Komposisi nutrisi Mol terdiri dari bahan – bahan yang mengandung karbohidrat, glukosa, makro dan mikro nutrien, serta bahan – bahan sumber mikroorganisme seperti buah dan daun busuk. Larutan dari bahan – bahan ini yang difermentasi selama kurang lebih tiga minggu dapat digunakan sebagai pupuk organik cair dan starter pembuatan kompos dan pupuk organik (Rosyana, 2010).

Mol yang dibuat di Desa Kondangjajar, seperti yang dijelaskan Pak Endang, seorang penyuluh pertanian, terdiri dari bahan – bahan seperti nira sebanyak 350 ml, air kelapa 700 ml, air cucian beras 1.5 L, daun ki hujan secukupnya, keong emas secukupnya, dan bonggol pisang secukupnya. Semua bahan padat dihaluskan dengan cara diblender atau di tumbuk. Campuran bahan yang sudah halus di masukkan ke dalam campuran bahan cair. Setelah itu, campuran diaduk dan ditutup rapat. Menurut Anonim2 (2012), penutupan ini perlu dilakukan karena fermentasi bahan – bahan dalam larutan Mol berlangsung secara anareob. Akan tetapi, yang menjadi catatan adalah pemahaman fungsi bahan – bahan yang digunakan dalam pembuatan Mol di Desa Kondangjajar masih kurang.
Larutan ini harus disimpan di tempat yang teduh selama kurang lebih tiga minggu dan sudah siap digunakan. Menurut beliau, Mol dapat digunakan sebagai pupuk organik secara langsung atau digunakan sebagai starter pembuatan kompos atau pupuk organik. Menurut Anonim2 (2012), manfaat yang didapatkan dengan mengaplikasikan Mol secara langsung sebagai pupuk hayati atau sebagai starter pembuatan pupuk organik akan bervariasi. Hal ini disebabkan kandungan Mol yang berbeda di setiap daerahnya baik mikroorganisme maupun kandungan nutrisinya.

Meskipun mampu membuat Mol sendiri, petani – petani di Desa Kondangjajar kebanyakan belum menerapkan pertanian organik di lahannya sendiri. Hal ini, menurut Pak Endang, karena petani masih belum mengerti pentingnya keberadaan bahan organik di dalam tanah. Selain belum mengerti, petani juga masih enggan menyisihkan sedikit waktunya untuk membuat pupuk Mol dan pupuk organik sejenisnya. Padahal, jika saja petani mau beralih ke pertanian organik, ketergantungan terhadap pupuk kimiawi akan berkurang.
Pemerintah harus lebih giat untuk memberi penyuluhan tentang pentingnya bahan organik serta mikroorganisme tanah pada petani. Dengan pemahaman tersebut, petani akan mengerti dan akan mulai mempraktikan pertanian organik tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s